resep kue kering

ubud villa

anjing di jual

mesin puncak
 
English Version

 

Metadata Spasial
Taman, Pariwisata dan Pemandangan

1Badan Pariwisata dan Seni Budaya Prov. Sultra. 2004. Indahnya Panorama Sultra : Suatu Tinjauan Umum Terhadap Potensi Industri Pariwisata dan Seni Budaya di Prov. Sultra. Badan Pariwisata dan Seni Budaya Sultra. Kendari.
Sultra memiliki potensi kepariwisataan yang berupa objek wisata yang telah dikelola baik oleh pemerintah maupun swasta. Buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang potensi industri kepariwisataan yang ada di Sultra antara lain objek dan daya tank wisata (ODTW), sarana dan prasarana kepariwisataan, perhubungan, biro dan atau agen perjalanan wisata, pengelolaan ODTW dan wisatawan. Objek wisata meliputi wisata minat khusus, wisata agro, wisata alam, wisata kota, wisata MICE (meeting, intensive, convention and exhibition) dan wisata budaya.
2Badan Pariwisata dan Seni Budaya Prov. Sultra. 2004. Panduan Pariwisata Sultra. Badan Pariwisata dan Seni Budaya di Prov. Sultra. Kendari.
Panduan ini menyajikan informasi mengenai 1) Informasi umum Sultra meliputi lokasi, pemerintahan, iklim, telekomunikasi. penukaran mata uang asing dan transportasi, 2) Pesona alam, 3) Budaya dan Sejarah, 4) Peta, 5) Minat khusus, 6) Kerajinan tangan dan dilengkapi alamat-alamat penting menyangkut kepariwisataan..
3Bappeda Tkt. II Pekanbaru, 1997. Proyek Studi Perencanaan Ruang Terbuka Hijau Kota, Kotamadyo Pekanbaru. Kerjasama Bappeda Tkt.II Pekanbaru dengan Lemboga Penelitian UNRI.
Ruang Terbuka Hijau pada dasarnya adalah setiap bidang (ahan di dalam kota yang ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, balk secara sengaja maupun alami. Penataan RTH berarti penetapan status RTH guna memperjelas peruntukkan don perlindungan hukum yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan-tindakan pengelolaannya agar tercapai tujuan penetapan tersebut secara optimal. bengan demikian dapat diperoleh manfaat sebanyak-banyaknya dari lahan RTH yang ditata, baik sebagai kawasan lindung maupun kawasan budidaya.
4Batubara, V. 2003. Itinerary Plan of Tanjung Balai as an Marine Tourism Town. Tourism Study Programme, USU. Medan.
Tanjung Balai Town in Brief Tour Operation Plan Package Tour Destination Plan
5Board of Tourism, Art and Culture of Bau-bau. Bau-bau is a Surprise in South East Sulawesi. Board of Tourism, Art and Culture of Bau-bau. Bau-bau.
Brosur ini menyajikan sekilas informasi tentang transportasi, sejarah dan budaya serta objek-objek wisata yang berada kota Bau-bau. Brosur ini juga memberikan informasi akomodasi. nunah makan, biro perjalanan dan sarana komunikasi.
6Dep. Pendidikan dan Kebudayaan Dir. Jend. Sejarah dan Nilai Tradisional Bagpro. Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sultra. 1993. Dampak Pengembangan Pariwisata terhadap Kehidupan Budaya Daerah Sultra. Dep. Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sultra. Kendari.
Pengembangan kepariwisataan daerah, merupakan suatu ancaman bagi kelestarian nilai-nilai budaya, norma­norma adat dan agama, tradisi serta kebiasaan-kebiasaan lama dalam masyarakat yang telah diwarisi secara turun-ternurun. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan sejumlah informasi tantang potensi sosial budaya di daerah Sultra dalam menyongsong kunjungan para wisatawan di Sultra. Kesimpulannya bahwa pariwisata dapat meningkatkan penerimaan devisa, memperluas kesempatan kerja, melestarikan kebudayaan dan meningkatkan persatuan dan kesatuan.
7Didik Santoso dkk. 20
Selain obyek wisata bawah lautnya yang sangat indah, kawasan Gili Indah juga memiliki objek ekoturisme (ekowisata) seperti wisata burung, wisata budaya, dan wisata olah taga seperti memancing, berenang lintas selat, berselancar dan tracking. Prinsip pengembangan daerah ini adalah ekoturisme (ekowisata) dengan pemanfaatan secara berkelanjutan. Pembentukan aturan dengan perinsip bottom up proses yang betul-betul aspiratif dan memenuhi prinsip-prinsip colaboratif management. Perlunya rencana detail pemanfaatan tata ruang bagi masing-masing sektor sumberdaya. Pengelolaan objek wisata Gili Indah hendaknya melibatkan masyarakat lokal untuk menjamin kesejahteraannya.
8Imam Bachtiar dkk. 2000. Penyusunan Rencana Program dan Konsep Pengelolaan Kawasan Gili Indah (NTB) sebagai Model Kawasan Binaan dalam Pengelolaan Lingkungan Pulau-Pulau Kecil Tahun 2000-2003.
Program-program yang diusulkan pada umumnya tidak membutuhkan dana yang besar. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya pengelolaan lingkungan yang berbasis masyarakat sebagian sudah dilakukan oleh masyarakat Gili Indah, hanya memerlukan penyempurnaan. Program-program yang perlu memperoleh penanganan secara lebih serius dan mendesak adalah program-program yang berkenaan dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan kesadaran masyarakat.
9Muhammad Dahyar.1999. Penerapan Pendekatan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu dalam Pembangunan Pariwisata di Kepulauan Derawan Propinsi Kalimantan Timur
Penelitian ini untuk menentukan kesesuaian kawasan Kepulauan Derawan bagi kegiatan pariwisata pantai dan bahari, memperkirakan daya dukung fisik, serta peluang bagi masyarakat lokal. Hasil menunjukkan bahwa parawista dapat dilakukan dengan daya dukung yang cukup tinggi dan besar pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan masyarakat lokal dibandingkan dengan daerah.
10Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non-hayati, BRKP- DKP.20
Laporan ini berisi gambaran umum tentang potensi wisata bahari di beberapa daerah di Indonesia termasuk Selayar, Belitung, Kepulauan Spermonde, Ciamis, dan Surabaya. Konsep pengembangan pariwisata beserta elemen-elemen yang mempengaruhinya seperti isu keberlanjutan, isu ekonomi, isu pendidikan, dan isu pelestarian Iingkungan dibahas dalam laporan ini yang dikaitkan dengan berbagai potensi pengembangan produk pariwisata seperti wisata alam dan budaya berbasis masyarakat dan ekoturisme.
11South Sulawesi Research and Development Agency (Balitbangda). 20
Menemukenali dan merumuskan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan dan lama tinggal wisatawan di Sulawesi Selatan, menganalisis keunggulan objek dan daya tarik wisata (ODTW) sesuai permintaan pasar nusantara maupun mancanegara, dan merumuskan kebijakan pembangunan pariwisata di Sulawesi Selatan.
12Syarif Husni dan Husein Jamani. 2003. Peranan Pengembangan Wisata Bahari Terhadap Kesejahtraan Masyarakat Pesisir di Kawasan Gili Indah Lombok Barat (The Role of Marine Tourism Development to The Prosperity of Coastal Community in Gili Indah, West Lombok).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 12 ragam kegiatan masyarakat di kawasan Gili Indah, terdiri atas 10 ragam di bidang pariwisata bahari (karyawan hotel/bungallow, art shop, guide, tukang kebun hotel, pedagang asongan, penyewaan alat snorkel dan diving, counter, transportasi, penukaran mata uang, dan sebagai tukang pijit); dan dua kegiatan dibidang non pariwisata yaitu sebagai nelayan dan tukang batu; rata-rata pendapatan masyarakat dibidang pariwisata bahari adalah Rp 8.018.333,-/tahun; dan tingkat kesejahtraan masyarakat di kawasan Gili Indah termasuk dalam kriteria "tidak miskin"