resep kue kering

ubud villa

anjing di jual

mesin puncak
 
English Version

 

Metadata Spasial
Informasi Sosioekonomi

1Anonim, 20
Buku ini berisikan pengkajian dalam rangka menumbuhkan prakarsa untuk pengembangan bentuk-bentuk kegiatan/scheme bagi pengelolaan sumberdaya pesisir dan Taut guna meningkatkan pendapatan masyarakat (Small Scale Natural Resources Management) dan penyusunan rencana investasi skala kecil pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan Taut di kawasan MCMA yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi dan biogeofisik lingkungan pesisir
2Anonim, 20
Laporan ini berisikan Fakta dan Analisis pembahasan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap perkembangan tata ruang wilayah kelautan dan Rencana Tata Ruang Wilayah Pesisir & Pulau Kecil Kabupaten Ketapang
3Anonim, 2003. Kalimantan Barat dalam angka (Kalimantan Barat in Figures) 20
Buku ini menampilkan hasil-hasil pembangunan secara kuantitatif (dalam bentuk data / informasi statistic) di daerah Kalimantan Barat selama 2000 ini.
4Anonim, 2003. Kalimantan Barat dalam angka (Kalimantan Barat in Figures) 20
Disajikan secara kuantitatif data / informasi statistic mengenai pelaksanaan pembangunan di Kalbar. 2002, Data disajikan dalam kategori Geografie, Iklim, Pemerintahan, Penduduk dan Tenaga kerja, Sosial, Pertanian, Perindustrian-Pertambangan-Energi & Konstruksi, Perdagangan, Transportasi-Komunikasi, Keuangan-Harga-harga, Ketersedian bahan makanan dan pengeluaran Pendapatan nasional.
5Anonim, 2003. Penyusunan Business Plan Kawasan Sentra Produksi (KSP) Perikanan Air Tawar Propinsi Kalimantan Barat
Buku ini menampilkan hasil-hasil pembangunan secara kuantitatif (dalam bentuk data / informasi statistic) di daerah Kalimantan Barat selama 2000 ini.
6Anonim, 2004. Draft Rencana Zonasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Kabupaten Kotawaringin Barat. Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, Dinas Perikanan dan Kelautan
Laporan ini berisikan pekerjaan perencanaan yang mengalokasikan sumberdaya pesisir dan laut (Rencana Zonasi) dalam wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat
7Anonim, 2004. Penyusunan Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Kabupaten Bengkayang
Laporan ini berisikan hasil pelaksanaan pekerjaan berupa alokasi kawasan pesisir, dan pulau pulau kecil Kabupaten Bengkayang untuk berbagai penggunaan sesuai dengan karakteristik lahan dan komunitas masyarakat yang menempatinya
8Arifin Aria Bakti, dkk. 20
Survei dilakukan berdasarkan hasil sensus dan review data tahun sebelumnya. Umumnya produksi hasil tangkap meningkat, demikian juga dengan jumlah nelayan yang meningkat. Jumlah konsumsi ikan dan pegawai tambang menurun, karena terjadi pengurangan tenaga kerja.
9Bappeda Sulteng 2005, Buku Perwilayahan Kabupaten Luwuk
Ulasan mengenai potensi daerah kabupaten Luwuk dan Banggai, berdasarkan trend perkembangan produksi pertanian, pertambangan, industri, pendidikan, kesehatan dan sosial ekonomi daerah.
10Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau 2004. Daftar Nama Desa Perikanan menurut jenis kegiatan usaha perikanan Prop. Riau.
Menggolongkan desa Perikanan di Riau berdasarkan jenis kegiatan perikanan
11Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau. 1995. Peluang pengembangan investasi perikanan Prop. Riau.
Analisis dan informasi social ekonomi potensi dan peluang investasi Perikanan di Riau
12Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau. 2000, Natuna da!am Angka tahun 2000.
Menyajikan data statistik Kabupaten Natuna
13Efendi R.S. 20
Environmental Effect Analysis Environmental Management Economic Analysis of Mangrove
14Emi Salmah. 20
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan kotor nelayan rata-rata sebesar Rp 456.250,- per bulan dengan kisaran terendah Rp 250.000,- dan tertinggi Rp 750.000,- atau rata-rata Rp 210.000,­perbulannya; tingkat ketahanan pangan rumahtangga nelayan cukup baik dilihat dad rata-rata konsumsi yaitu sebesar 1884,5 kalori/kapita/hari lebih tinggi dan standar tingkat kecukupan pangan menurut Sayogyo sebesar 1.700 kalori/kapita/hari dan yang ditetapkan oleh WHO (1993) sebesar 1.879,5 kalori/kapita/hari; strategi yang dipergunakan dalam menciptakan ketahanan pangan adalah usaha diversifikasi pangan, cadangan pangan, pengarahan tenaga kerja, penyesuaian pola/menu makanan, meminjam pada tetangga atau pada lembaga keuangan lainnya.
15Hadibrata, Lucky Fathul Azis. 1991. Analisis Ekonomi Pemanfaatan Batubara Sebagai Pengganti Bahan Bakar Minyak Pada Produksi Semen di PT.(Persero) Semen Tonasa, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Propinsi Sulawesi Selatan. Tesis Master. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahul manfaat batubara sebagai sumber energi alternatif pengganti minyak. Analisis ekonomi menggunakan Biaya Sumberdaya Domestik (BSD) dan harga bayangan yang mengukur keunggulan komparatif produksi semen yang menggunakan minyak maupun batubara, sedangkan analisis keuangan menggunakan pendekatan rasio biaya-manfaat, rasio penghematan energi dan analisis titik impas. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemanfaatan batubara ditinjau dari aspek keuangan adalah layak untuk dilakukan dalam menggantikan minyak dalam memproduksi semen di PT. (Persero) Semen Tonasa dengan umur teknis 25 tahun dan tingkat suku bunga 20% (nilai rasio biaya-manfaat = 1,4679, NPV = 19,5 milyar dan IRR = 73,15%). Titik impas dengan memanfaatkan batubara sebesar Rp. 64,481 juta dengan volume 556,3 ribu ton atas dasar harga per ton semen Rp. 123. 100,00 sedangkan menggunakan minyak, titik impasnya lebih tinggi lagi yaitu mencapai Rp. 85.628 juta atau setara dengan volume produksi sebesar 695,6 ribu ton. Menggunakan batubara dapat menghemat biaya produksi sebesar 65% dibanding menggunakan minyak.
16Mujio (Ketua Tim Penyusun). 2003. Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi. Jambi.
Publikasi in memuat data dan informasi tentang ekonomi dan lapangan kerja di kecamatan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat pada tahun 2001. Data ekonomi dan lapangan kerja ini disajikan dalam bentuk persentase penduduk yang terlibat dalam masing-masing lapangan pekerjaan yang tersedia serta tingkat partisipasi angkatan kerja, tingkat pengangguran terbuka dan tingkat kesempatan kerja untuk laki-laki dan perempuan pada setiap kecamatan pesisir di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Publikasi ini menyajikan juga data produksi hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, jumlah perusahaan besar, menengah dan kecil, jumlah sarana perdagangan (pasar, warung dan restoran), serta volume dan nilai ekspor dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
17Mujio (Ketua Tim Penyusun). 2003. Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi. Jambi.
Publikasi in memuat data dan informasi tentang pendidikan dan kesehatan di kecamatan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat pada tahun 2001. Data pendidikan disajikan dalam bentuk jumlah sekolah, guru dan murid pada masing-masing tingkatan pendidikan serta persentase penduduk berdasarkan tingkat pendidikan formal yang diselesaikan di setiap kecamatan pesisir di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
18Mujio (Ketua Tim Penyusun). 2003. Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi. Jambi.
Publikasi in memuat data dan informasi tentang kependudukan di kecamatan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat pada tahun 2001. Data kependudukan ini disajikan dalam bentuk persentase penyebaran, tingkat kepadatan, nisbah kelamin, sebaran umur dan laju pertumbuhan penduduk pada setiap kecamatan dan desa pesisir di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
19Nurhamidah, 1993. Social Economic Condition of Coastal Community at Tanjung Rejo Village. Percut Sei Tuan Sub District. Deli Serdang District. USU Research Institute. Medan
Socioeconomic level of coastal community.
20Pemda Kodya Samarinda, Samarinda Dalam Angka 20
Buku rujukan penting untuk melihat potensi dan kinerja pembangunan untuk wilayah kotamadya Samarinda secara umum, dan disajikan secara terstruktur mencakup seluruh aspek dan sektor pembangunan.
21Purwoko, A. Dan Onrizal. 20
Mengidentifikasi jenis-jenis potensi manfaat sosial dan ekonomi dari ekosistem dan keberadaan hutan mangrove. Mempelajari alternatif pemanfaatan dan/atau pengembangan potensi sosial ekonomi hutan mangrove tersebut dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan. Menyusun rekomendasi guna pemanfaatan dan/atau pengembangan potensi manfaat sosial, ekonomi kemasyarakatan hutan mangrove tersebut dalam skala yang layak terap di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut.
22Purwoko, A. Dan Onrizal. 20
Mengidentifikasi jenis jenis potensi manfaat sosial dan ekonomi dari ekosistem dan keberadaan hutan mangrove. Mempelajari alternatif pemanfaatan dan/atau pengembangan potensi sosial ekonomi hutan mangrove tersebut dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan. Menyusun rekomendasi guna pemanfaatan dan/atau pengembangan potensi manfaat sosial, ekonomi kmasyarakatan hutan mangrove tersebut dalam skala yang layak terap di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut.
23Rustam Efendi Siregar. 2003. Analisis Dampak Sosial Ekonomi Hutan Mangrove yang Dikelola Kelompok Informal terhadap Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Pulau Sembilan Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan.
Lokasi berada di daerah pesisir di pantai-pantai yang terlindung dimana ekosistem mangrove dapat menjadi bioproteksi pantai sebagai pelindung garis pantai, sumber pakan, netralisasi limbah, pencegah intrusi air laut dan pelindung habitat biota. Penggunaan lahan untuk tanah sawah, perkebunan, tambak ikan dan hutan. Data curah hujan rata-rata 1530 mm setahun, dengan klasifikasi iklim C menurut Schmidt dan Ferguson.
24Socioeconomic Influence of Mangrove which Managed by Informal Group to Community Income at Pulau Sembilan Village, Pangkalan Susu Sub District. Post Graduate Programme, USU. Medan.
Analysis of community income that affected by informal group activities on managing mangrove resources.
25Suparno. 2001. Penelitian Kondisi Sosial Ekonomi, Kependudukan dan Budaya. di Wilayah Pesisir Kabupaten Padang Pariaman. Puslitbang Perikanan, Universitas Bung Hatta, Padang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan melakukan analisis dasar tentang kondisi sosial ekonomi, kependudukan dan budaya masyarakat perikanan di Kabupaten Padang Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan kepala keluarga nelayan buruh (ABK) dalam satu bulan belum mencukupi, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya walaupun secara ekonomi unit-unit usaha penangkapan yang beroperasi sangat menguntungkan. Jumlah anggota keluarga nelayan sebagian besar masih mempunyai anak banyak dan tingkat pengetahuan mereka tentang ekosistem wilayah pesisir masih relative rendah. Secara adat kebiasaan belum mempunyai lembaga untuk mengatur pengelolaan sumberdaya laut.
26Syahriandi, H. 2000. Pengaruh Agroindustri terhadap Kerusakan Hutan Mangrove dan Pendapatan Masyarakat Kecamatan Secanggang dan Kabupaten Langkat.
Keadaan Biofisik daerah penelitian yang mencakup letak dan luas wilayah; geologi dan tanah; iklim; penggunaan tanah; kondisi lahan vegetasi. Letak wilayah berdasarkan peta geologi dan tanah skala 1:500000 Keadaan sosial ekonomi yang mencakup kependudukan, sarana dan prasarana perekonomian serta sarana dan prasarana perhubungan. Kependudukan membahas tentang jumlah dan penyebaran penduduk; penduduk menurut tingkat pendidikan; serta mata pencaharian dan pendapatan.
27Syarif Husni dan Ibrahim. 20
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan wanita nelayan sebesar 23,33 % per tahun dari pendapatan rumahtangga nelayan, dua sektor usaha produktif wanita nelayan yaitu sektor perikanan berupa usaha ikan segar, ikan pindang, sate ikan, pengumpul kerang dan usaha perbaikan jaring, sedangkan sektor di luar perikanan berupa buruh tani, pedagang beras dan usaha warung, sedangkan secara ekonomi dan ekologi kegiatan usaha produktif wanita nelayan yang layak untuk dikembangkan adalah usaha sate ikan, ikan segar dan ikan pindang.
28Syarifuddin. 20
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan komunitas pesisir termasuk kategori sejahtera dan wanita (ibu rumahtangga) berpartisipasi untuk mewujudkan kesejahtraan rumahtangga. Dari uji Chi-Square partisipasi ibu rumahtangga memanfaatkan peluang bekerja dan berusaha, sumbangan pendapatan ibu rumahtangga, dan alokasi curahan waktu terdapat hubungan dengan tingkat kesejahtraan rumahtangga, sedangkan pengambilan keputusan tidak terdapat hubungan dengan tingkat kesejahtraan rumahtangga komunitas pesisir.
29Tim Kerja Sosial Ekonomi Pokja COREMAP Sulawesi Selatan. 2001. Studi Sosial Ekonomi Kepulauan Spermonde dan Pulau-Pulau Sembilan, Sulawesi Selatan. Buku 1. Kepulauan Spermonde (Draft laporan Akhir, Revisi).
Penelitian ini dimaksudkan sebagai acuan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kep. Spermonde, Kab. Pangkep, dalam rangka persiapan implementasi Program COREMAP Phase II. Pengumpulan data dilakukan pads 5 lokasi, yaitu: pulau Kodingareng, pulau Langkai dan Lanyukang, pulau Salerno, pulau Balang Lompo dan gugus pulau Kapopposang, Pandangang dan Gondongbali. Data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan dengan menerapkan metode observasi, survey, FGD dan indepth interview, dengan total responden 501 KK. Data yang yang dikumpulkan meliputi kondisi sosial demografi, tingkat kesejahteraan masyarakat, pemanfaatan sumberdaya taut, faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kelestarian terumbu karang.
30Yusnawati, Cut. 2004. Influence of Mangrove Exploitation to Social Economic Level of Pantai Labu Community, Deli Serdang District. Post Graduate Programme, USU. Medan.
Socioeconomic level and mangrove exploitation behavior of Pantai Labu community.