resep kue kering

ubud villa

anjing di jual

mesin puncak
 
English Version

 

Metadata Spasial
Pemetaan Daratan

1Agustinus, T. 1997. Kajian Geologi Pantai Untuk Pengembangan Wisata Bahari Pulau Sanrobengi Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar Propinsi Sulawesi Selatan. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji geologi pantai Pulau Sanrobengi dalam rangka pengembangan wisata bahari. Aspek-aspek yang diamati meliputi bentuk dan tekstur geologi pulau, ukuran gelombang, pasang surut, kuat arus serta beberapa sifat fisik dan kimia air taut lainnya. Hasil-hasil yang dicantumkan antara lain kedalaman minimum-maksimum : 1-12 m, arah arus N 10 E - N 350 E, serta topografi relatif dari pulau yaitu 0,5m-1,5m.
2Amiruddin Tahir, Dietrich G. Bengen dan Setyo Budi Susilo. 20
The result showed that coastal landuse allocation of Balik Papan Bay must consider land suitability level
3Anonim. Pemetaan Kelayakan Lahan Usaha Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung di Teluk Ekas -NTB
Berdasarkan hasil analisis spasial dengan teknik overlay beberapa parameter internal utama (kedalaman, keterlindungan, arus air, pasang surut, substrat, kecerahan, gelombang dan logam berat) diperoleh lokasi pengembangan kegiatan budidaya ikan dalam keramba jarring apung (KJA) dengan total luasan 13 km . Luasan tersebut terbagi atas tiga kategori yaitu : sangat layak seluas 4 km2, layak 5 km2 dan cukup layak 4 km2
4Bappeda NTB, rencana Zonasi kelurahan Tanjung Karang dan Ampenan Selatan.
Rencana zonasi sebagai salah satu kebijaksaan pembangun di dalam kota, memiliki fungsi yang cukup penting untuk didayagunakan sebagai acuan di dalam upaya pemanfaatan ruang di wilayah perencanaan agar dapat berjalan secara efisien, efektif, dan terpadu antar sektor.
5Bappeda Propinsi Sulawesi Selatan. 20
Album peta ini menyajikan informasi tentang spasial secara makro tentang potensi fisik dan kebijaksanaan pembangunan wilayah di propinsi Sulawesi Selatan. Termasuk penggunaan tanah, curah hujan, ketinggian tempat, DAS, pertambangan dan galian, pariwisata, irigasi, dan prasarana transportasi. Juga mencakup informasi spasial mengenai pengembangan wilayah seperti, pengembangan komoditi pertanian, RTRWP dan kawasan andalan.
6Burhanuddin, 20
bengan aplikasi satelit penginderaan jauh NOAA/AVHRR dan SIG untuk estimasi daerah penangkapan ikan pelagis di perairan Bagansiapiapi dan sekitarnya. Dalam hal ini dilakukan teknik matching antara hasil overlay dengan nilai digital sebaran suhu permukaan laut, kandungan klorofil-a dan peta kedalaman laut. Penentuan nilai kesesuaian dilakukan dengan pembobotan masing-masing kriteria berdasarkan pengaruhnya terhadap distribusi ikan pelagis di laut.
7Dinas Pertambangan Kalimantan Tengah, Album Peta Wilayah Pertambahan, Daerah Eksplorasi di Kalimantan Tengah
Peta yang dibuat dimaksudkan untuk membetikan gambaran mengenai lokasi pertambangan yang telah dialokasikan ( terbangun ). Hal ini juga dimaksudkan untuk mempermudah pihak investor mengetahui area yang masih tersedia untuk digunakan.
8Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil.20
Album peta ini menyajikan informasi tentang sumberdaya geologi, geomorfologi, gempa tsunami, sebaran bahan galian, sumberdaya ikan, budidaya mutiara dan rumput taut, tambak dan potensi tambak, lokasi wisata bahari, sarana darat, taut dan udara, pelabuhan perikanan, kawasan lindung, taman nasional taut, rencana tata ruang pesisir dan pulau-pulau kecil di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, pemasaran hasil perikanan, dan alur taut kepulauan Indonesia (ALKI) serta pengembangan kawasan prioritas
9Hadi, S, et al. 20
Identification of Marine and Coastal resources consists of: (1) general physical condition of Nias District and Deli Serdang District, (2) Biophysical and physical condition of Nias and Deli Serdang District, (3) Demography and social aspect, (4) Development condition of Fisheries and Tourism factor. Initial Development Strategy of Marine and Coastal Zone of Nias and Deli Serdang District of: (1). Management Strategic of Coastal Ecosystem (2). Socio-Economic aspect of Fisherman. (3). Development Strategic of Institution. (4). Development Strategic of Tourism.
10Hasmiwati. 2001. Pemetaan Penggunaan Lahan Kabupaten Maros Menggunakan Citra Satelit Landsat-TM. Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin, Makassar.
Penelitian dilakukan untuk memetakan penggunaan lahan Kabupaten Maros yang diperoleh dari hasil klasifikasi penggunaan lahan dengan pengolahan secara digital terhadap data Landsat-TM. Dengan mentransfer data raster dari citra Landsat-TM komposit band 453 (RGB) yang telah diinterpretasi secara visual ke data vektor diperoleh inventarisasi penggunaan lahan berupa pemukiman seluas 1276,809 ha (2,3%), belukar/ladang seluas 722,291 Ha (1,3%), hutan rapat seluas 10122,903 Ha (18,14%) hutan sekunder seluas 5390,076 Ha (9,66%), kebun campuran seluas 12097,631 Ha (21,68%), sawah seluas 11726,239 Ha (17,15%), lahan terbuka seluas 224,853 Ha (0,40%), tambak seluas 9566,039 Ha (21,02%), mangrove seluas 66,898 Ha (0,12%) dan tubuh air seluas 4596,978 Ha (8,24%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra penginderaan jauh landsat-TM memiliki kemampuan yang baik dalam perolehan data penggunaan lahan dengan uji ketelitian hasil interpretasi sebesar 88%.
11Husni, Hemusye. 1989. Terrain Analysis Based On Small Scale Aerial Photographs In South Sulawesi (Indonesia). Thesis Doktor. State University of Ghent, The Netherlands.
Penelitian ini merupakan aplikasi foto udara skala kecil pada hamparan lahan yang luas untuk menganalisis tutupan tanah permukaan menggunakan analisis tiga dimensi. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini meliputi : batas area lahan, kiasifikasi penggunaan lahan, profil lapisan tanah permukaan serta distribusi regional dari tanah permukaan dalam hubungannya dengan pola hamparan lahan. Hasil penelitian ini mengelaborasi tentang klasifikasi lahan berdasarkan tipologinya, pola drainase permukaan dan keberadaan vegetasi pada lahan yang digunakan.
12Massinai, M.Altin. 1995. Pengkajian Citra Satelit NOAA AVHRR Dalam Penentuan Suhu Permukaan Laut. Tesis Program Studi Geodesi Bidang Sains Fisik. Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung.
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung suhu permukaan laut dengan metoda Deschamp & Pulpin melalui penginderaan jauh sensor AVHRR satelit NOAA- 11. Lokasi dan waktu yang dipilih dalam penerapan metode ini adalah selat Makassar. Hasil perhitungan suhu permukaan laut diperoleh suatu gambaran kondisi suhu di selat Makassar. Sebaran dominan suhu permukaan laut di daerah tersebut berkisar 24C-27C. Pada tanggal 30 Agustus 1992 diduga terjadi proses penaikan massa air laut dari lapisan bawah ke permukaan di perairan bagian barat pantai selatan Pulau Sulawesi dengan suhu dibawah 24C.
13Taaladin, Z., Dede H., Musriyadi N., H. Bambang S., dan Wahyudi A. 2003. Penelitian dan Pemetaan Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara Tahun Anggaran 2003. Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu Bekerjasama Dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bengkulu Utara.
Informasi data dan pemetaan Pulau Enggano mengenai potensi sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata tersedia secara detail yang akan digunakan menjadi acuan pengembangan berikutnya. Rencana pengembangan sektor kelautan dan perikanan diarahkan pada perikanan tangkap dan budidaya industri pengelolaan hasil perikanan dan fasilitas fisik pendukung kegiatan perikanan sedangkan pariwisata diarahkan untuk pariwisata bahari dengan cara analisis SWOT.
14Ukkas, Marzuki. dan A.Nadja, Rahmawaty. 1999. Studi Pembentukan Lahan dan Penguasaan Tanah Timbul pada Kawasan Pantai Kotamadya Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Hasil Penelitian Berbagai Bidang 11mu. Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan sebaran pembentukan lahan dan penguasaan tanah timbul pada kawasan pantai bagian utara Kotamadya Ujung Pandang yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Perwakilan Tamalanrea. Wilayah-wilayah tersebut termasuk dalam lingkup Bagian Wilayah Kota (BWK) J, yang berbatasan dengan Sungai Bonelengga di sebelah utara dan sebelah selatan dengan Sungai Tallo. Pembentukan lahan tanah timbul terjadi akibat interaksi perakaran pohon bakau yang sengaja ditanam penduduk dan oleh tingginya sedimen tersuspensi akibat luapan air pada kedua muara sungai tersebut diatas. Total areal tanah timbul ke arah laut adalah 3356, 82 ha pada saat surut terendah. Sedangkan pola penguasaannya adalah melalui proses warisan secara turun temurun yang dilanjutkan dengan jual beli oleh warga setempat. Status kepemilikan tanah timbul umumnya berupa tanah adat dengan bukti pemilikan berupa girik yang status kepemilikannya kurang kuat.