resep kue kering

ubud villa

anjing di jual

mesin puncak
 
English Version

 

Metadata Spasial
Oseanografi dan Hidrografi

1Anonim, 1983. Pemetaan wilayah laut Propinsi Kalimantan Tengah. Laporan akhir sementara, CV. Archegama, Palangka Raya
The mapping of marine area provides information on the characteristics of marine area and land use status in the coastal area of Central Kalimantan province. The characteristics of marine area are drawn on maps of marine area, marine boundary, marine-bed, bathymetry as well as river distribution. The land use status is described briefly and supported also by maps of: administration boundary, public settlement and road network.
2Bappeda II kab. Bengkalis. 20
Menggambarkan rancangan detail penanggulangan abrasi pantai di Bengkalis baik secara teknis, biologis.
3Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL. 2004. Daftar Pasang Surut (Tide Tables). Kendari.
Buku daftar pasang surut ini menyajikan informasi tentang gerakan pasang surut diramalkan terhadap suatu muka surutan yang letaknya 14 cm dibawah DT.
4Hamel Sany Diana 2000. Morfologi Gisik Di Daerah Pantai Bahoi. Pulau Tagulandang
Sebagai akumulasi sedimen pantai berupa pasir dan kerikil, gisik merupakan suatu bentuk lahan litoral yang selama ini digunakan kebutuhannya.Penelaahan morfologi gisik tersebut telah dilaksanakan dalam ligkup kerja laboratorium Morfologi Pantai dan Hidro-Oseanografi.Lahan gisik Bahoi digenangi massa air yang berbeda periode urnur bulan perbaikan akhir-Juli 1999 dan periode umur bulan purnama Agustus 1999. Proses Gisik Bahoi diperairan oleh faktor hidro-oseanografi. Selain tenggang air pasut yang berbeda, aliran massa air yang bergerak dengan orientasi dominan antara Barat dan Utara, berbeda pula untuk periode waktu survei dan berkecepatan relatif rendah sebesar 0,
5Hamel Yonni Tommi. 2000. Morfologi Ludah Pasir di Kawasan Litoral Kcma Dan Lopana.
Ludah pasir yang merupakan salah satu tumpukan sedimen di kawasan litoral, dipandang sebagai lahan bentukan proses laut yang mengandung potensi jasa lingkungan. Lahan pantai yang terdapat di kawasan litoral Kema dan Lopana ini, telah ditelaah aspek morfologi ludah pasimya dan telah dilaksanakan dalarn lingkup kerja laboratorium Morfologi Pantai dan Hidro-Oseanografi, Program Studi Ilmu Kelautan. FPIK Unsrat. Ludah pasir yang ditelaah tergolong berbentuk ludah pasir sederhana dan teridentifikasikan sebagai corak di litoral Kema dan corak ingustan di litoral Lopana. Dari segi morfometri, kemiringan lereng laluan ini memperlihatkan persentasi yang berbeda menurut kawasan, bagian dan profit yang ditelaah.
6Kaim Muklilis Abdul 1998. Surface current Movement in the Coastal Water of Likupang Minahasa Regency.
The sea current happended bu a lot of causes. Major currents are tides, wind blow, the breakers wave, wave and the difference density horizontally, actually this is caused by fresh water current that comes from river or warm water and from wasting industry. Current surface in the coastal water generally complex, because there are many factors influences namely the circulation, topography of sea, water depth, wind blow, tides, waves and river currents.
7Kainde.Frangky Abraham 1997 Pemetaan Dasar Laut (Batimetri) dalani Hubungaimya dengan Perencanaan Bangunan Pengaman Pantai di Pantai Lirung Kabupaten Sangihe dam Talaud.
Daerah pantai merupakan daerah yang dinamis dengan segala kerumitan fisik yang terjadi sehingga menampakkan ciri khas pantai tersebut. Ditinjau dari aspek geografis perairan di selat Lirung sangat potensial untuk pengembangan di bidang ilmu dan teknologi kelautan. Oleh karena itu salah satu kajian dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan yaitu survei dan pemetaan dasar taut (batimetri) merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang pengembangan wilayah pantai dan pesisir. Keadaan topografi pantai lirung menampakkan keunikan tersendiri. Hasil penelitian menunjukan bahwa umumnya pada setiap lajur pengukuran kedalaman terdapat penurunan topografi yang cukup tajam dengan perubahan kedalaman sekitar 7 - 15 meter pada jarak yang tidak terlalu jauh dengan garis pantai ke arah taut sehingga pada lokasi-lokasi tersebut topografinya curam.
8Langie Elisabeth Pattricia 2001, Identifikasi Proses Pembentukan Lahan Gisik di Selat Lembeh Bagian Barat
Bentuk lahan pantai yang berada dilorong laut atau selat cenderung mengalami preubahan sebagai akibat bekerjanya proses geomorfik. Sebagai salah satu lahan pantai, gisik yang secara umum dipaharni sebagai akumulasi sedimen pantai berupa pasir dan kerikil, merupakan suatu ruang yang digunakan manusia sebagai tempat rekreasi karena hamparan pasirnya yang indah dan dapat memberikan potensi yang besar dalam aspek keparwisataan. Sehubungan dengan aspek kepariwisataan tersebut, keberadaan lahan gisik di Selat Lembeh bagiab Barat dipandang penting untuk diungkapkan mengingat kurangnya informasi mengenai daerah tersebut. Berdasarkan hal tersebut, serangkaian proses belajar dalam bentuk penelitian telah dilakukan untuk menyediakan jawaban terhadap masalah bagaimana peranan faktor hidrooseanografi, morfometri lahan, dan distribusi granulometri sediment terhadap pembentukan lahan gisik.
9Marojahan, S. 1999. Silicon-Silicate Contents in Bayur Bay and Bungus Bay.
Pengamatan kandungan silicon-silikat yang dilakukan 2 kali di Perairan Teluk Bayur dan Teluk Bungus pada Bulan Juni dan September 1998 mendapatkan 2 harga yang berbeda yaitu pada bulan Juni di lapisan permukaan dan dekat dasar Teluk Bayur dengan rata-rata 3,23 gg A/1 dan dengan rata-rata 4,35 gg A/I. Sedangkan pada bulan September dengan rata-rata 13,62 g A/1 dan dengan rata-rata 28,64 g A/I. Di Teluk Bungus pada bulan Juni pada lapisan permukaan dan dekat dasar masing-masing rata-rata 6,26 g A/I dan rata-rata 14,15 g A/l; sedangkan pada bulan September masing-masing dengan rata-rata 10,77 g A/1 dan dengan rata-rata 20,57 g A/l. Nilai rendah dijumpai di lepas pantai dan lapisan permukaan. Secara umum kadar silikat di Teluk Bayur pada bulan Juni lebih rendah daripada di Teluk Bungus; akan tetapi pada bulan September kadar silikat di Teluk Bayur lebih tinggi daripada Teluk Bungus. Fluktuasi kadar ini dipengaruhi musim dan didominasi pengaruh daratan.
10Mujio (Ketua Tim Penyusun). 2003. Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi. Jambi.
Publikasi in memuat data dan informasi tentang kedalaman perairan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
11Mujio (Ketua Tim Penyusun). 2003. Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi. Jambi.
Publikasi in memuat data dan informasi tentang kisaran suhu perairan laut Kabupaten Tanjung Jabung Barat serta kisaran salinitas pada saat pasang naik dan pasang surut di muara Sungai Tungkal dan Sungai Betara.
12Mujio (Ketua Tim Penyusun). 2003. Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Propinsi Jambi. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jambi. Jambi.
Publikasi in memuat data dan informasi tentang kondisi pasang surut di perairan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
13Pirade, Ronius. 2003. Studi Produktivitas Primer Perairan Dengan Melihat Kelimpahan Fitoplankton di Muara Sungai Maros. Skripsi Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin. Makassar.
Penelitian ini mengukur produktivitas primer melalui kelimpahan ftoplankton. Di lokasi penelitian didapatkan 3 kelas fitoplankton, yaitu : Bacillariophyceae (87.4%), Dinophyceae (8.55%) dan Chlorophyceae (
14Rachmat, B., 1999. Analisis Energi Fluks Gelombang. Dalam Penyelidikan Geologi dan Geofisika Wilayah Pantai Perairan Teluk Bayur dan sekitarnya Padang, Sumatera Barat. Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL), Bandung.
Pantai Padang yang langsung menghadap ke Samudera Hindia dinamikanya akan sangat dipengaruhi oleh gelombang samudera yang mencapai pantai. Untuk mengetahui pengaruh gelombang terhadap perubahan garis pantai Padang ini telah dibuat perhitungan energi fluks gelombang yang dihitung berdasarkan hasil transformasi data angin. Data angin yang dipakai adalah kecepatan > 10 knots, jarak pengaruh angin (fetch) dari masing-masing arah angin dan frekuensi kejadiannya. Transformasi data angin dan jarak jangkauan angin menghasilkan tinggi dan perioda gelombang signifikan. Selanjutnya data gelombang signifikan ini digunakan untuk menghitung energi fluks gelombang memanjang pantai (Longshore wave energy flux). Hasil energi fluks tersebut yang dikonversikan ke dalam laju pengendapan sepanjang pantai memberikan gambaran jelas tentang proses abrasi dan akrasi sepanjang pantai Padang hingga Pariaman.
15Rachmat, B., 1999. Analisis Pasang Surut. Dalam Penyelidikan Geologi dan Geofisika Wilayah Pantai Perairan Teluk Bayur dan sekitarnya Padang, Sumatera Barat. Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL), Bandung.
Pasang surut (pasut) adalah proses naik turunnya muka laut secara periodik karena gaya tank terutama bulan dan matahari. Untuk mengetahui kondisi pasut dengan akurasi yang baik diperlukan pengukuran paling sedikit selama 15 hari. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan konstanta harmonik diperoleh level muka air rata-rata (MSL) di Perairan Padang dan Pariaman sebesar 0,879 meter. Tipe pasang surut ditentukan berdasarkan frekuensi air pasang dan surut setiap hari ; sedangkan secara kuantitatif ditentukan oleh perbandingan antara amplitudo atau tinggi gelombang unsur-unsur pasut tunggal utama dan unsurunsur pasut ganda utama (bilangan Formzahl). Bilangan Formzahl yang diperoleh dari harga amplitudo tersebut adalah 0,265 atau klasifikasi jenis pasut di Perairan Padang termasuk tipe campuran condong ke harian ganda (mixed semi diurnal tide) yaitu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari.
16Sarmili, L., 1999. Perubahan Garis Pantai. Dalam Penyelidikan Geologi dan Geofisika Wilayah Pantai Perairan Teluk Bayur dan sekitarnya Padang, Sumatera Barat. Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL), Bandung.
Perubahan garis pantai dibedakan menjadi dua ; yaitu perubahan garis pantai bagian utara Padang dan selatan Padang. Kajian perubahan garis pantai ini berdasarkan pengamatan lapangan yang ditunjang juga dengan data peta Dishidros (1915) dan peta dasar AMS (Army Military Service - Amerika) tahun 1943. Kajian ini menyatakan bahwa garis pantai daerah perairan Teluk Bayur dan sekitarnya, terutama bagian utara Padang merupakan pantai abrasi. Pantai abrasi ini memanjang 55 km dari Padang hingga Pariaman merupakan pantai lurus dan datar dengan ciri-ciri abrasi berupa : banyaknya bangunan pantai penahan abrasi dan sisa-sisa tanaman kelapa. Dari kajian garis pantai baru rata-rata mundur 500 meter kea rah daratan atau dengan tingkat atau laju abrasi pada tahun pengamatan (1998) adalah 6 meter/tahun. Sedangkan garis pantai di selatan Kota Padang yang dimulai dari daerah muara hingga pantai Bungus relative cukup stabil artinya perubahan garis pantai tidak terlalu signifikan. Beberapa lokasi yang mengalami abrasi hanya ditemukan di teluk-teluk kecil seperti Teluk Kabung, pantai Bungus dan sekitar selatan Teluk Bayur. Ciri abrasi di pantai relative stabil ini adalah : adanya endapan pasir kerikilan di dalam teluk, pohon kelapa di bibir pantai, bekas rumah yang rusak, serta bangunan penahan gelombang yang hancur. Kerusakan paling parah ditemukan sekitar utara Air Manis dengan adanya pemukiman yang rusak akibat aksi gelombang.
17Walangitan Melvin Junita. 2001. Studi Penibahan Amplitudo Gelombang Pasang Surut di Lorong Laut Lembeh
Perubahan muka laut yang lebih teratur dan periodik yang disebabkan oleh gaya tarik benda-benda di luar bumi. biasanya disebut pasang surut (pasut). Publikasi ilmiah mengenai fenomena pasut masih relatif terbatas khususnya di perairan Lorong laut Lembeh, sehingga perlu diadakan penelitian-penelitian lebih lanjut untuk menunjang pengelolaan pantai di kawasan perairan ini. Mengingat penelitian ini dipandang sebagai informasi awal sehingga disamping hasil yang diperoleh berpeluang untuk diujikan pada ruang dan periode waktu lainnya. hasil perhitungan dengan metode admiralty ini juga dapat dijadikan landasan untuk membuat perarnalan pasut pada perairan Lorong laut Lembeh.