resep kue kering

ubud villa

anjing di jual

mesin puncak
 
English Version

 

Metadata Spasial
Geologi, Mineral dan Minyak & Gas

1Bahriah. 1993. Studi Kandungan Silika dan Beberapa Logam Pengotor Pasir Kuarsa Asal Kabupaten Maros dan Pinrang. Skripsi Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan silika beberapa logam pengotor seperti : Fe, Al, Mn, Pb, dan Zn. Hasil yang diperoleh memperlihatkan kandungan silika sebesar 90,77%-96,03%, sementara konsentrasi besi antara 19,3 - 1300,313 ppm. Al bervariasi antara 423,5 - 1147,625 ppm. Kandungan logam lainnya tidak lebih dari 8 ppm.
2Bamahry, Alie. 1991. Penyelidikan Lapisan Bumi dengan Metoda Wenner. Skripsi Jurusan Geologi, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini memaparkan hasil deteksi parameter lapisan bumi memanfaatkan medan elektromagnetik yang dimiliki lapisan-lapisan bumi termasuk hambatan jenis dan hantaran jenis menggunakan metoda Wenner. Hasil yang disajikan berupa informasi ketebalan dan hambatan jenis bumi secara horizontal yang merupakan upaya untuk mendapatkan gambaran geologi baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
3Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Tenggara. 2003. Pemboran Eksplorasi Air Tanah Di Desa Potoro Kecamatan Andolo Kabupaten Konawe Selatan. Provinsi Sulawesi Tenggara. Provek Pengembangan Pertambangan Sulawesi Tenggara.
Laporan ini menyajikan tentang pemboran eksplorasi air tanah pada dasamya juga bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi yang mengontrol keberadaan air tanah antara lain meliputi sifat fisik dan kimia lapisan batuan pembawa air, ketebalan lapisan dan kedudukan/posisinya dalam kerangka stratigrafi daerah setempat. inventarisasi sumberdaya air bawah tanali, tentang kuantitas dan kualitas.
4Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Tenggara. 2003. Penvelidikan Geologi Terpadu Kecamatan pasar wajo kabupaten Buton. Provinsi Sulawesi Tenggara. Provek Pembinaan dan Pengembangan Usaha Pertambangan. Kendari.
Laporan tahunan ini menyajikan informasi tentang gambaran kondisi wilayah yang meliputi kondisi geologi, hidrologi, geologi tehnik, bahan galian, bencana alam geologi dan aspek geologi lingkungan.
5Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Tenggara. 2003. Penyelidikan Detail Bahan Galian Marmer Daerah Batu Putih Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Provek Pembinaan dan Pengembangan Usaha Pertambangan Daerah. Kendari.
Marmer adalah bahan galian industri untuk kontruksi mencakup sebagai batuan penghias ruangan (Gmement) maupun sebagai pendukung ruangan (Floor tile) dengan kelebihan sangat poros (tiga kali lebih dari granit) dan memiliki daya serap tinggi, kekerasan 40 % dari permata (diamond) dan memiliki corak bervariasi.
6Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Tenggara. 2004. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) BUKARI (Buton - Kolaka - Kendari) Provinsi Sulawesi Tenggara. Proyek Penunjang Perencanaan dan Sarana Pendukung Daerah Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri.
Minvak dan gas bumi cekungan Buton terdapat di daerah Sulawesi Tenggara dengan Sumberdaya minvak hipototik 329,
7GESIT ARIYANTO 2005. Ekspedisi Wallacea Indonesia 2005
Dugaan kuat keberadaan gas alam didukung karakteristik dasar Teluk Tomini, yang salah satunya ditemukan cekungan Gorontalo. Hasil ekspedisi DKP, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan lembaga penelitian Australia Csiro tahun 2001 lalu mengidentifikasikan, ketebalan sedimen cekungan Gorontalo 500 meter. Kedalamannya lebih dari 1.000 meter.
8Hamid, Sumarni, dkk. 1999. Studi Penggunaan Lime-Stone (Batuan Endapan) Pada Campuran Beton Aspal. Laporan Hasil Penelitian Rutin lJnhas. Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini menggunakan gradasi spesifikasi Bina Marga (untuk mengetahui persentasi agregat yang lobs pads masing-masing saringan yang digunakan). Penelitian ini menggunakan beberapa jenis batuan endapan serta batuan magma sebagai referensi dengan karakteristik yang diamati adalah abrasi, berat jenis, penyerapan kepipihan, analisa saringan, kelekatan agregat terhadap aspal. Selain itu agregat halus untuk diteliti yakni sand equivalent, berat jenis, penyerapan serta analisa saringan. Juga dilakukan pengamatan penetrasi pads aspal panas yang digunakan sebagai bahan pengikat, baik sebelum maupun sesudah kehilangan berat, titik lembek, titik nyala, daktilitas, berat jenis dan persentase kehilangan berat. Hasil penelitian menunjukkan : lime-stone Camba 70 yang memiliki tingkat abrasi tinggi masih memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk beton aspal (untuk lalu lintas harian 1000 s/d 2000); tingkat abrasi yang tinggi, tidak selalu memberikan stabilitas beton aspal yang rendah tapi dapat pula sebaliknya ; agregat lime-stone dapat memberikan kandungan aspal optimum yang tinggi walau digunakan pada gradasi yang sama, namun masing-masing agregat memberikan nilai V.M.A (voids in mineral aggregate) berbeda disebabkan bentuk yang bervariasi serta tingkat kepipihannya.
9Machmoed, A. Muharistina. 1994. Penentuan Struktural Lapisan di Bawah Permukaan Tanah di Daerah Delta Jeneberang dan Sekitarnya dengan Seismik Bias Dangkal. Skripsi Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini menekankan cara penentuan ketebalan dan karakteristik pada setiap lapisan tanah yang dilakukan berdasarkan interpretasi data, laju penjalaran gelombang dan ketebalan tanah setiap lapisan dapat diperkirakan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa lapisan pertama terdiri atas pasir, sementara lapisan kedua terdiri atas lempung, dengan ketebalan setiap lapisan bervariasi antara 0,5 - 3,6 m.
10Padra, Hasnah. 1994. Studi Logam Besi dan Mangan dalam Lamun dengan Spektrofotometri Serapan Atom. Skripsi Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini membahas tentang distribusi logam besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam beberapa jenis lamun, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata yang tumbuh di perairan pulau Barrang Lompo. Kadar logam Fe dan Mn yang tertinggi dari ketiga jenis lamun terdapat pada akar, kemudian pada daun dan batang. Hasil analisis secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang berarti baik pads taraf kepercayaan 0,05 maupun 0,01 dari kadar logam Fe maupun Mn antara akar, batang dan daun dari Enhalus acoroides. Demikian pula kadar logam Mn pada Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata tapi kadar logam Fe menunjukkan perbedaan yang berarti baik pads taraf kepercayaan 0,05 maupun pada taraf kepercayaan 0,01.
11Sarmili, L. 1999. Karakteristik Pantai. Dalam Penyelidikan Geologi dan Geofisika Wilayah Pantai Perairan Teluk Bayur dan sekitarnya Padang, Sumatera Barat. Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL), Bandung.
Karakteristik Pantai Perairan Teluk Bayur dan sekitarnya Padang, Sumatera Barat merupakan hasil pemetaan pantai yang dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan mulai dari sekitar Teluk Bungus di selatan hingga sekitar pantai Pariaman di utara. Sarmili mengklasifikasikan jenis pantai berdasarkan komposisi tekstur dan sedimen menjadi: Pantai Berpasir, Pantai Berpasir Kerikilan dan Pantai Berbatuan. Pantai berpasir hampir terdapat di sepanjang pantai daerah penyelidikan ; di beberapa tempat terutama sekitar muara sungai terdapat endapan pasir besi ; pantai ini umumnya juga menjadi obyek proses abrasi sepanjang Padang hingga Pariaman. Pantai Berpasir Kerikilan terdapat di sekitar pantai Bungus dan Teluk Bayur sebagai pantai terpisah-pisah (pocket beach) bagian dari pantai teluk dengan bentang alam pesisir perbukitan berelief sedang yang tersusun dari batuan breksi volkanik ; sedangkan mineral penyusun dari pantai berpasir kerikilan ini adalah terutama karbonat, fragmen batuan, biotit, sedikit mineral hitam ; serta kerikil berupa fragmen batuan berupa batugamping, andesit dan lava gunungapi ; pantai ini juga menjadi obyek proses abrasi tetapi dengan adanya bagian pantai yang masih ditumbuhi bakau kondisi pantai relatif stabil tidak mengalami kemunduran. Pantai Berbatuan kenampakan di lapangan berupa batuan dasar baik yang tersingkap di pantai atau bongkah batuan hasil abrasi ; jenis pantai ini terdapat di daerah perbukitan mulai dari Muara Padang hingga pantai Bungus di selatan ; bentang alam daratannya umumnya perbukitan berelief tinggi ; komposisi batuan umumnya andesitik dengan ketinggian dari 50 hingga 400 meter di atas muka laut serta kemiringan lereng mencapai 80 derajat ; pantai ini sangat resistan terhadap proses abrasi dan umumnya membentuk tanjung-tanjung.
12Setijoko, Hartini. 1995. Pengaruh Kondisi Geologi Terhadap Daya Dukung Lingkungan di Sub-DAS Maros. Tesis Master. Program Studi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi geologi terhadap daya dukung lingkungan di Sub­Das Maros, yang erat kaitannya dengan masalah tata air. Pada wilayah Karst air permukaan pindah menjadi air bawah tanah dan membentuk sungai bawah tanah. Dari data hidrogeologi, wilayah ini merupakan wilayah mata air produktif tinggi sampai sedang. Rekahan pada batuan Basal Piroksin tidak menyebabkan tipe aliran berubah, wilayah ini merupakan wilayah air tanah langka. Struktur geologi berupa Patahan Normal dan Patahan Geser dapat menghambat masuknya air ke dalam sungai dan juga tempat masuknya air ke bawah tanah. Pengukuran infiltrasi menunjukkan perbedaan besar Laju Infiltrasi pada setiap formasi batuan dan menyebabkan perbedaan besamya aliran permukaan.
13Umar, Hamid. 2000. Analisa Tanah Liat Sebagai Material Keramik di Kabupaten Takalar. Laporan Penelitian. Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan potensi endapan tanah liat sebagai bahan baku industri gerabah di Kabupaten Takalar dengan tujuan menentukan batas penyebaran horisontal dan vertikal endapan tersebut dan upaya-upaya peningkatan kualitas. Hasil penelitian dan analisis ayak mekanis menunjukkan bahwa endapan tanah fiat di daerah Takalar berasal dari pelapukan tufa, batugamping dan breksi vulkanik serta persentase kandungan materialnya dapat dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu Lempung Pasiran ( sandy clay ), Lumpur Pasir ( sandy mud ), Lanau Pasiran ( sandy silt ), Pasir Lempungan ( clayey sand ) dan Pasir Berlumpur ( muddy sand ).